Fakta Unik Tentang Penerapan Harga Produk

Ada yang unik dalam menerapkan harga produk yang sering kita temui pada sebuah bisnis, misalnya saja di sebuah supermarket, pasti kita sering melihat produk yang di bandrol dengan harga yang tanggung seperti Rp.799 Siapapun pastinya menyebut harga itu sama saja dengan Rp.800 .

Mengapa toko tersebut menerapkan harga sekian ? ternyata di balik penerapan harga itu bukan sembarangan, akan tetapi ada maksud untuk mempengaruhi pisikologi konsumen. Karena menurut beberapa studi harga barang yang diahiri dengan angka 9 lebih bisa menaikan penjualan hingga 24%. Memang tidak ada sebuah penelitian yang memastikan hal ini, namun faktanya banyak pebisnis yang melakukannya.

Anda boleh percaya atau tidak, masih ada lagi beberapa fakta unik tentang penerapan harga yang mempengaruhi prilaku konsumennya, dan beberapa diantaranya merupakan hasil penelitian yang sudah terbukti kebenarannya, berikut ulasannya :

  • Simbol Mata Uang

Jika di Indonesia adalah rupiah (Rp) jika di amerika ($) Dollar, fakta kali ini telah melewati kajian yang mendalam oleh sebuah universitas di New York bernama Cornell University Center. Bahwa memasang harga produk tanpa menambah kan simbol mata uang, dapat mendorong konsumen untuk membeli lebih banyak. misalnya harga pada sebuah barang hanya di tulis dengan harga (20.000) bukan (Rp.20.000) atau (50) bukan ($50).

Menurut penelitian tersebut, simbol mata uang mengingatkan konsumen bahwa sedang membelanjakan uang, sehingga mereka lebih berhati-hati dalam berbelanja. Dan hasil penelitian tersebut di terapkan pada daftar menu di sebuah restoran, terbukti dapat meningkatkan penjualan.

Advertisement
  • Cicilan Harian Lebih Menarik Daripada Bulanan

 

Misalnya saja pada produk Tv berlangganan bulanan yang mematok tarif sebesar 300.000 per bulan. Konsumen akan lebih tertarik jika penerapan harganya menjadi 10 ribu perhari, meski jika di kalikan hasilnya sama saja. Sebabnya angka tersebut lebih terlihat terjangkau bagi mereka.

  • Membuat Terlihat “Murah”

Jika pada saat sedang melihat-lihat sebuah dompet dengan bertuliskan harga 5 juta maka kita akan beranggapan bahwa itu harganya mahal. Akan tetapi berbeda jika dompet seharga 5 juta tersebut di kelilingi dengan dompet-dompet lain yang harganya 10 juta…

Dompet yang 5 juta itu beralih manjadi produk dengan harga yang “murah” karena di kelilingi oleh barang-barang yang lebih mahal darinya.

Cara ini termasuk banyak yang menerapkan untuk menaikan harga suatu barang, hanya kita sebagai pembeli sering tidak menyadarinya, metode ini mempengaruhi pikiran konsumen dengan perbandingan.

  • Memilih Harga Menengah

Saat konsumen di tawari produk premium seharga 100.000 dengan produk menengah 90.000, mayoritas yang banyak pembelinya adalah produk premium. Namun jika di tawarkan satu barang lagi yaitu produk murah seharga 80.000, maka kebanyakan konsumen akan beralih ke produk menengah seharga 90.000.

Selanjutnya jika produk murah seharga 80.000 ditarik dan di ganti dengan produk super premium seharga 110.000, maka konsumen pun sebagian akan beralih ke produk premium seharga 100.000.

Artinya, jika ada sebuah produk yang di prioritas kan maka buatlah 3 pilihan dan tempatkan produk prioritas tersebut di posisi ke dua atau tengah, ini bisa membatu membuat penjualan produk yang di prioritaskan tersebut lebih banyak terjual.

(sumber wirausahaindonesia. com)